Senin, 29 Maret 2010

BAB 3 : Aktifitas Sehari-hariku

Hari-hariku tidak seperti biasanya kini, beruntung pada kelas satu, karena SMA-ku masih belum memiliki jumlah kelas yang cukup, untuk semua kelas satu oleh pihak sekolah dimasukkan pada siang hari, sehingga pagi harinya aku berada di Asrama Putra Ma’hadku, sekadar main dan menanyakan tugas sekolah kepada santri yang memang satu kelas denganku di SMA.
Tapi sebenarnya itu hanya sekedar saja, yang terpenting adalah saat pagi hari, ku lakukan kebiasaanku pada pagi hari, membaca koran, sambil menenggak secangkir kopi, dan Sepiring Pisang goreng hangat, tapi tak seperti biasanya yang dimana aku melakukan di dalam rumah sambil nonton T V juga. Tapi sejak ada Jamilah, aku pindah di Depan Rumah, tepatnya di teras Rumahku.
Ku tunggu Jamilah berangkat Sekolah, ku pandangi dia saat bermain di Halaman sekolah SD dengan teman-temannya, yang dimana SD Ma’hadku memang berada di Depan Rumah. Jadi, dari ruang tamu rumahku Semua Bagian SD terpampang jelas di mataku.
Tanpa sengaja, terkadang ku lihat dia lewat di depanku, melihat pancaran matanya, indahnya paras cantik wajahnya, Manisnya bibirnya saat tersenyum, dan mulianya perkataan dan canda tawanya yang selalu terngiang di kepalaku. Ku tunggu dia, setiap hari setiap pagi. Tak peduli dia sedang masuk di dalam kelas, mendengarkan dan memperhatikan gurunya di kelas. Tapi, meski aku tidak melihat dirinya, aku tetap tegar menanti bel istirahat atau bel pulang, saat dimana dia akan keluar kelas, yang dimana aku dapat melihat Pesona Ayunya.
Bahkan pada Siangnya pun , saat dimana Aku harus sekolah. Semua konsentrasiku akan pelajaran serasa hilang, berbagai teori-teori & rumus-rumus baru, yang diajarkan padaku tidak mampu mengalahkan pikiranku yang sedang selalu memikirkan Jamilah, bahkan bayangannya serasa selalu berada di sampingku. Bahkan saat jam kosong atau sedang istirahat, ku sempat-sempatkan untuk pulang ke Rumah, barangkali ku bisa melihat Jamilah. Meski Lebih sering, tidak ketemunya, aku tetap menyempatkan diriku ini untk pulang ke rumah saat jam kosong dan Istrihat, demi Jamilah.
Malamnya pun, jamilah tetap berlabuh di Hatiku. Kegelapan malam dapat menyembunyikan pohon-pohon dan bunga-bunga, tapi, Rasa Cintaku pada Jamilah tidak akan mampu ditutupi oleh kegelapan Malam sekalipun. Meski Matahari telah pergi jauh, meski semua insan terdiam, tertutup matanya, menikmati indahnya alam mimpi, meski di kala kesunyian malam menemaniku, Rasa cinta itu masih tetap ada. Tak peduli Dewa Mimpi, memaksa kedua bola mataku untuk beritirahat, tapi hati ini serasa tidak rela untuk melewatkan detik-detik malamku demi memikirkan jamilah. Ku tak mau kehilangan sekian detik saja, tanpa ada jamilah di Hatiku.
Terkadang, dalam malamku ku menangis sendiri, menangisi ketidak mampuanku memiliki jamilah, ku memohon kepada Allah, agar Ditambahkan cintaku pada Jamilah, dan semoga Memberikan Panah asmara pula kepada Jamilah, agar mau padaku.
Tapi, ku tak berani menyatakan rasa cintaku padanya, karena ku tahu dia masih kelas 3 SD, masih Seusia 9 tahun, sedang aku 15 tahun. Sebenarnya, sah-sah saja andai aku bersama dengannya, memadu kasih berdua dengannya. Seperti halnya Rasulullah yang menikahi siti aisyah, pada saat masih berusia 9 tahun pula, sama dengan Jamilah.
Tapi rasa cintaku ini, sudah tidak mampu ku bendung lagi, bahkan Ratusan hati pun, belum cukup untuk menampung rasa cintaku pada Jamilah. Ini benar-benar cinta sejati, Jamilah benar-benar Pujaan hatiku, perempuan yang kudamba-dambakan selama ini, perempuan yang kunjunjung tinggi kehormatannya.
Tapi, setiap kali ku memikirkannya. tetesan air mata, selalu membasahi pipiku, menangisi kebodohan yang tidak berani Menyatakan cinta padanya. Karena aku yakin, bahwa Cinta yang selalu dibasuh oleh air mata, akan tetap indah dan suci selamanya. Begitu pula dengan cintaku pada Jamilah, yang tak akan terlekang oleh waktu, yang tak akan terkikis oleh masa, dan tak akan tergoda oleh perempuan manapun.
Ku lalui hari-hariku, terus Menerus begitu, selalu Jamilah lah yang ada di Hatiku. Tiap benda Yang ku pandang, bukan benda itu yang nampak, melainkan sosok Jamilah yang sangat mempesona.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar